Sampang, Lensacyber.com | Marluwi, warga Desa Taman, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, menjadi salah satu pelaku UMKM yang mengandalkan usaha tahu sebagai sumber penghasilan. Usaha ini ia rintis setelah setahun bekerja di Bangkalan bersama keluarga mertuanya yang juga pengrajin tahu.
Setiap hari Marluwi memproduksi sekitar 10 kilogram tahu atau setara 5 papan. Hasil produksinya dijual dengan harga Rp1.000 per biji untuk pembeli eceran dan Rp800 untuk pedagang. Dalam sehari, seluruh tahu yang diproduksi selalu habis terjual di sekitar perkampungan.
“Biaya produksi per papan sekitar Rp20 ribu, sudah termasuk kedelai, minyak, bensin, garam, dan kayu bakar,” ujarnya. Ia membeli kedelai seharga Rp10 ribu per kilogram dan kayu bakar Rp20 ribu untuk sekali produksi.
Meski pasarnya cukup menjanjikan, Marluwi masih mengandalkan proses manual yang memakan waktu hingga 5 jam untuk sekali produksi. Ia mengakui adanya mesin pembuat tahu modern seharga Rp30 juta, namun keterbatasan modal membuatnya belum bisa memiliki alat tersebut.
“Harapan saya ke depan ada pembinaan soal pemasaran, pengemasan, dan bantuan dari pemerintah. Selain itu, semoga harga bahan pokok bisa stabil agar pedagang kecil juga bisa merasakan keuntungan yang layak,” katanya.
Marluwi juga ingin memiliki tempat usaha yang terpisah dari rumahnya. Saat ini, aktivitas produksi masih bercampur dengan tempat tinggal sehingga kurang nyaman.
Kisah Marluwi menjadi potret semangat warga desa untuk bertahan dan berusaha mandiri meski dengan segala keterbatasan.
Penulis| Imron
