Kekeringan Kaligesing Jadi Sorotan, PDAM Purworejo Siapkan Skema Air Rp10 Miliar

Lensacyber
A-AA+A++

PURWOREJO, LensaCyber.com – Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan di wilayah Kecamatan Kaligesing, termasuk Desa Donorejo.

PDAM tidak ingin penanganan kekeringan hanya bergantung pada distribusi air menggunakan mobil tangki. Dua sumber air mulai disiapkan sebagai alternatif permanen, yakni kawasan Gua Seplawan dan Bendung Plipir.

Direktur Perumda Air Minum Tirta Perwitasari Purworejo, Hermawan Wahyu Utomo, S.T., M.Si., mengatakan secara teknis potensi air di kawasan Kaligesing masih mencukupi. Tantangan utama justru berada pada pembangunan jaringan perpipaan karena kondisi geografis dan jarak sumber air.

“Kalau melihat pemakaian air, jumlah penduduk dan potensi air di sana, secara keseluruhan masih mencukupi. Yang perlu biaya besar adalah perpipaannya karena jaraknya cukup jauh,” kata Hermawan saat ditemui di sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor PDAM Tirta Perwitasari Purworejo, Kamis (10/9/2026).

Salah satu opsi yang dikaji adalah memanfaatkan sumber air Gua Seplawan dengan potensi debit sekitar 10 liter per detik. Air akan dipompa menuju reservoir sebelum dialirkan ke wilayah Kaligesing.

Kondisi elevasi yang cukup tinggi membuat jaringan tersebut membutuhkan sistem pengamanan tekanan. PDAM merencanakan pembangunan bak pelepas tekanan secara berkala agar jaringan perpipaan tidak mengalami kerusakan.

Selain Seplawan, PDAM menyiapkan opsi pengolahan air dari Bendung Plipir. Air dari kawasan tersebut dapat dinaikkan untuk memperkuat pasokan ke wilayah Kaligesing.

“Kalau dua-duanya terkoneksi, ini menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak kemarau di wilayah Kaligesing,” ujarnya.

Baca Juga :  Malam puncak acara haftatul imtihan ya ke 44 di pondok pesantren Nurul Wahid Al Wahyuni pengasuh KH. SUBAWEH berjalan hikmad

Namun, kedua rencana tersebut belum masuk tahap realisasi. PDAM masih membutuhkan koordinasi dan perencanaan bersama pemerintah daerah serta perangkat daerah terkait.

Hermawan menyebut, berdasarkan perhitungan sebelumnya, pembangunan jaringan dari Seplawan membutuhkan anggaran sekitar Rp3,5 miliar. Sementara pembangunan pengolahan air di Plipir diperkirakan membutuhkan investasi lebih besar, mendekati Rp10 miliar.

“Sekarang nilainya tentu sudah naik. Dulu sekitar Rp3,5 miliar khusus dari Seplawan. Kalau pengolahan di Plipir lebih mahal, hampir Rp10 miliar,” ungkapnya.

Menurut Hermawan, besarnya investasi membuat proyek tersebut tidak semata-mata dapat dihitung berdasarkan aspek bisnis. Penyediaan air bersih, kata dia, merupakan bagian dari fungsi sosial pemerintah daerah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

“Ini lebih ke sosial. Investasinya memang cukup besar karena jaraknya jauh. Tetapi ini tanggung jawab pemerintah daerah untuk mencukupi kebutuhan daerah-daerah yang secara bisnis tidak masuk,” tegasnya.

PDAM juga mendorong agar sistem yang dibangun nantinya tidak berhenti pada fasilitas air umum, tetapi dapat menjangkau sambungan rumah (SR) masyarakat. Untuk jaringan distribusi, PDAM mempertimbangkan penggunaan pipa HDPE yang lebih fleksibel dan sesuai dengan karakter medan Kaligesing.

Hermawan menilai sistem dropping menggunakan mobil tangki tetap diperlukan sebagai solusi darurat. Namun, pola tersebut tidak ideal jika menjadi satu-satunya cara memenuhi kebutuhan masyarakat setiap musim kemarau.

“Kalau bisa, di situ ada sistem yang standar. Dibuat penampungan kemudian diturunkan, sehingga tidak selamanya bergantung pada dropping,” katanya.

Baca Juga :  Soal Oknum Perwira, GASI Pertanyakan Lamban dan Tertutupnya Lidik

Pelayanan Air Harus 24 Jam

Di tengah rencana penguatan infrastruktur tersebut, PDAM juga terus membenahi kualitas pelayanan. Hal itu disampaikan Hermawan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti sekitar 130 karyawan PDAM Tirta Perwitasari.

Kegiatan yang menghadirkan KH. R. Dawud Masykuri, Pengasuh Pondok Pesantren Al Maunah Plaosan, Baledono, tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat soliditas karyawan.

Sebagian pegawai tetap menjalankan tugas piket karena pelayanan air bersih harus berlangsung selama 24 jam.

“Air itu untuk hajat hidup orang banyak dan merupakan kebutuhan dasar. Jadi pelayanan air bersih tidak bisa setengah hati. Harus all out dan 24 jam,” ujar Hermawan.

PDAM menerapkan sistem shift dan memastikan setiap cabang memiliki petugas yang siap menangani gangguan, termasuk kebocoran jaringan pada malam hari.

Selain itu, pengawasan terus diperkuat melalui sistem digital, termasuk pemanfaatan CCTV dan monitoring selama 24 jam. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat deteksi gangguan sekaligus memperpendek waktu penanganan pengaduan pelanggan.

Hermawan menegaskan peningkatan kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas, bersamaan dengan kewajiban PDAM meningkatkan pendapatan dan kontribusi terhadap daerah serta menjalankan fungsi sosial perusahaan.

“Alhamdulillah selama ini kualitas kerja sudah meningkat. Tingkat pengaduan cepat kita selesaikan, tingkat trouble kita minimalisir. Kewajiban kita untuk meningkatkan pendapatan dan dividen daerah juga terus berjalan, termasuk fungsi sosial,” pungkasnya. {CHY}