Diduga dapur MBG katompen, semakin hari menjadi trending topik nada sumbang warga karena diduga para pekerja antar kecamatan,

Lensacyber
A-AA+A++

Probolinggo lensacyber.com_ Program MBG merupakan program nasional pemerintah saat ini, walaupun program MBG ini sudah berjalan. Namun suara dengung dari kalangan masyarakat masih saja terdengar sumbang, hal itu sering menjadi perbincangan..Seperti halnya yang sering di sorot adalah terkait rekrutmen relawan mitra MBG, atau para pekerja,Pada Selasa tanggal 04 Agustus tahun 2026

Yang di duga MBG desa katompen tepatnya RT 03 RW 01 dusun Krajan, milik salah satu yayasan, dari salah satu pondok pesantren di desa sumberejo kecamatan Paiton lebih di kenal milik gus/kiai, kini menjadi sorotan publik terkait relawan/ pekerja dapur yang tidak memberdayakan warga sekitar, hampir menjadi buah bibir setiap hari, karena mobil rombongan relawan MBG Ketompen terlihat warga saat memasuki dapur MBG, padahal aturan yang di tetapkan oleh BGN dari radius 6 kilo meter dari titik dapur,

Baca Juga :  Interior Design Tips: Decorating to Celebrate the Great Outdoors

Sehingga warga sekitar merasa cemburu sosial karena hanya sedikit sekali warga desa ketompen yang bekerja, padahal masih banyak warga sekitar dapur, butuh pekerjaan, Sehingga nada sumbang warga sekitar kian tajam hingga terdengar awak media,

Al hasil dari informasi yang di himpun awak media, ternyata memang benar adanya, nada sumbang tersebut tidak hanya datang dari warga namun kepala desa ketompen merasa sangat kecewa…karena tidak adanya etika dari pemilik dapur, untuk mengajak kerja sama untuk memberdayakan UMKM lokal warga sekitar,

Baca Juga :  The Best Point and Shoot Camera Phones for your Next Vacation

Hal ini menjadi bukti bahwa program MBG ini tidak hanya di hujat di media sosial, namun sudah menjadi trending topik setiap hari,

Sementara pemilik dapur menyampaikan lebih mengutamakan alumni pesantren, dari pada orang lain, Namun jangan lupa.. walaupun pembangun MBG ini adalah hak preogratif namun ini adalah program pemerintah, yang tak lain ingin mencetak generasi emas di tahun 2045, namun sumbangnya suara lebih ter-Arah kepada adap tidak menghargai penguasa

(Hasan)