PROBOLINGGO, LENSACYBER.COM – Kawasan pesisir panas di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kini menjelma menjadi sentra produksi melon premium. Buah dengan rasa manis dan tekstur renyah ini laris diburu pasar modern.
Greenhouse Tanjoeng Farm di Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, mencatat hasil panen perdana mencapai 2,2 ton dan habis terjual hanya dalam dua hari. Kini, hasil panen dari kawasan dekat Selat Madura tersebut juga mulai masuk ke gudang buah nasional.
Pengelola Tanjoeng Farm sekaligus Ketua Poktan Tunas Harapan Desa Karanganyar, Nahrawi, mengatakan budidaya melon premium ini berawal dari mimpi sederhana pada 2021. Saat itu ia melihat banyak lahan pondok pesantren yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Awalnya hanya obrolan dengan teman-teman. Kami berpikir, masa teknologi pertanian modern tidak bisa diterapkan di sini,” kata Nahrawi, Sabtu (16/5/2026).
Ide tersebut awalnya diragukan karena lokasi greenhouse berada di kawasan pesisir dengan suhu panas dan karakter tanah dataran rendah. Bersama tim dari Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ), Nahrawi kemudian belajar ke sejumlah daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Sidoarjo, Jombang, hingga Pandaan Pasuruan untuk mencari sistem pertanian yang cocok.
“Kami mencari teknologi yang sesuai untuk wilayah pesisir,” ujarnya.
*Gunakan Teknologi Hidroponik NFT*
Tanjoeng Farm akhirnya menggunakan sistem hidroponik _nutrient film technique_ (NFT), metode pertanian modern dengan aliran air tipis yang menjaga nutrisi tanaman tetap stabil. Bibit melon premium didatangkan dari Belanda, Thailand, dan Taiwan dengan varietas unggulan _lavender_ dan _intanon_.
Varietas _lavender_ memiliki ukuran besar, warna oranye di bagian luar dan dalam, rasa manis, serta tekstur _crunchy_. Sementara _intanon_ memiliki tekstur lebih lembut dengan aroma khas. Tingkat kemanisan melon yang dihasilkan mencapai 14 brix.
Greenhouse seluas 16 x 32 meter itu mampu menampung sekitar 1.400 tanaman melon dan bisa panen hingga empat kali setahun. Penanaman pertama dilakukan April 2025, lalu panen perdana berlangsung Juli 2025 dengan hasil sekitar 2,2 ton.
“Untuk harga Rp30.000 per kilogram. Alhamdulillah panen pertama langsung habis dalam dua hari,” kata Nahrawi.
*Dari Wisata Petik Hingga Pasok Pasar Nasional*
Tiga panen pertama dipasarkan melalui konsep wisata petik melon yang dipromosikan lewat TikTok dan YouTube. Pengunjung dari berbagai daerah datang untuk memetik buah langsung dari pohonnya sambil melihat proses budidaya hidroponik.
Imelda, pengunjung asal Situbondo, mengaku tertarik karena penasaran dengan melon premium yang viral di media sosial. “Tempatnya menarik karena bukan cuma wisata, tetapi juga bisa belajar cara menanam melon hidroponik. Rasanya manis dan teksturnya _crunchy_,” ujarnya.
Melihat tingginya permintaan, pada panen keempat awal 2026 Tanjoeng Farm menggandeng Sunpride sebagai distributor buah nasional. Sekitar 80 persen hasil panen kini dikirim ke gudang buah nasional, sedangkan sisanya tetap untuk wisata petik buah.
Buah grade A dengan berat 1,5 hingga 2 kilogram menjadi kategori utama untuk pasar modern. Grade B berukuran di bawah 1,5 kilogram atau di atas 2 kilogram, sedangkan grade C untuk buah dengan bentuk tidak simetris.
“Yang tidak masuk grade utama tetap dimanfaatkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Nahrawi.
Selain melon, Tanjoeng Farm juga mengembangkan budidaya selada hidroponik dengan sekitar 5.000 titik tanam. Kawasan ini kini menjadi lokasi pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Nurul Jadid (UNUJA) sekaligus tujuan outing class sejumlah sekolah di Kabupaten Probolinggo.
- “Ada petak yang menjadi laboratorium mahasiswa agar mereka bisa mengembangkan pertanian modern di daerah asal masing-masing,” kata Nahrawi.*(Heru/Red)



Tidak ada Respon