Aksi Heroik Penyelamat Kereta Api 25 Tahun Lalu, Kak Topikboom Pukau Santri TPQ An-Nahdliyah Al-Ikhlas

Berry Pratama
A-AA+A++

KABUPATEN BEKASI, LENSACYBER.COM – Suasana penuh berkah dan keceriaan menyelimuti Masjid Al-Ikhlas, Perumahan Gramapuri Persada (GP) Blok H, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) An-Nahdliyah Al-Ikhlas sukses menggelar Haflah Akhirussanah, Ikhtitam Al-Qur’an 30 Juz Bin Nadlor, serta Wisuda 6 Jilid Metode An-Nahdliyah pada Selasa (16/06/2026).

​Acara yang mengusung tema mendalam, Ilmu Bukan Hanya Sekadar Dihafal, Tetapi untuk Diamalkan, ini terasa kian istimewa dengan kehadiran Ustadz Ahmad Taufik, S.Pd., atau yang akrab disapa Kak Topikboom. Di balik sosoknya yang jenaka sebagai Pendongeng Anak Bahagia, Kak Topikboom menyimpan rekam jejak sejarah luar biasa: seorang bocah penyelamat ribuan nyawa dari tragedi teror bom di jalur kereta api Lemah Abang pada tahun 2001 silam.

​Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua TPQ An-Nahdliyah Al-Ikhlas Blok H, Ustadz Moh Khamdi (yang juga menjabat Ketua Mabin An-Nahdliyah & Ketua FKPQ Bekasi), serta Kepala Desa Sukajaya, H. Amang S. beserta jajaran stafnya.

​Nakhoda di balik suksesnya acara ini adalah Ustadzah Dewi Suryani, A.Ma bersama jajaran Dewan Guru berdedikasi, Masbakhah, S.E, Iftakhul Chayati, Yulianti, Roza Rahmawati, Hidayatu Syamsiyah, dan Wahyu Istiana. Kebahagiaan memuncak saat prosesi Tasyakuran Khataman Al-Qur’an 30 Juz diraih oleh tiga santriwati terbaik, yaitu Maulidya Dwi Athaleta, Berliana Alya Shidqiya, dan Alifia Hafshof.

​Di hadapan para santri, Kak Topikboom tampil memukau dengan dongeng yang sarat hikmah, tawa, dan motivasi. Namun, siapa sangka, nama “Boom” di belakang panggilannya merujuk pada peristiwa nasional 25 tahun lalu yang sempat menggemparkan Indonesia.

Baca Juga :  Pertigaan Berbahaya Di Sampang, Lampu Peringatan Tak Berfungsi

​Pada 8 Januari 2001, Topik kecil yang kala itu berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMP, sedang menggembalakan sapi di pinggir rel kereta api Kedung Gede – Lemah Abang (sekarang masuk wilayah Kecamatan Cikarang Timur).

​”Awalnya sapi saya, Si Pitak, mogok jalan karena kakinya tersangkut kawat. Pas saya bantu lepasin, saya penasaran kawat apa ini. Begitu saya telusuri, ternyata tersambung ke tiga buah granat aktif (dua jenis nanas, satu jenis manggis),” kenang Topik sambil menunjukkan arsip berita jadul di ponselnya.

​Dengan kepanikan luar biasa, Topik berlari sejauh 400 meter menuju pos jaga terdekat dan melaporkan temuannya kepada petugas, Didi Junaedi, sebelum akhirnya jatuh pingsan karena syok.

​Laporan cepat itu berhasil menghentikan KA Bangun-Karta rute Jakarta-Jombang yang tengah melaju kencang membawa ribuan penumpang. Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol Mulyono Sulaiman, menegaskan bahwa peletakan granat militer tersebut merupakan aksi sabotase yang sengaja dirancang untuk menciptakan kekacauan nasional.

​Melalui momen ini, Topik juga meluruskan kekeliruan berita koran nasional masa lalu yang menyebut dirinya sempat melihat tiga orang mencurigakan memasang kabel.

“Saya tegaskan, saat itu saya murni sendirian dan tidak melihat siapa pun di lokasi. Ini penting untuk meluruskan sejarah,” jelasnya.

​Berdasarkan arsip Koran TEMPO edisi 22 Januari 2001, aksi heroik bocah rendah hati ini langsung memicu gelombang apresiasi. Topik mendapatkan penghargaan dari tingkat lokal hingga menteri, menerima beasiswa, hingga dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri.

Baca Juga :  Perisai BPJS Ketenagakerjaan Buktikan Komitmen, Dampingi Ahli Waris Hingga Pengajuan Klaim

​Demi keselamatannya dari ancaman balas dendam pelaku, kehidupan Topik sempat berubah drastis. Rumahnya dijaga ketat oleh enam personel polisi, dan ke mana pun ia pergi, ia dikawal oleh intel berpakaian preman. Bahkan, ia terpaksa cuti sekolah demi faktor keamanan.

​Dua puluh lima tahun berlalu dari hiruk-pikuk pemberitaan nasional, Ahmad Taufik kini memilih jalan pedang sebagai pejuang sosial dan perawat kebahagiaan anak-anak. Bersama istri dan buah hatinya, ia kini tinggal di rumah sederhana sebagai Marbot Masjid Ar-Rayan, Desa Karanganyar.

Meski namanya tak lagi menghiasi layar kaca, semangat patriotismenya tidak pernah padam. Kak Topikboom aktif mendedikasikan hidupnya melalui berbagai organisasi dan gerakan sosial. Saat ini, beliau aktif sebagai pengurus Karang Taruna & GP Ansor PAC Karangbahagia, serta berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU) & IKA PMII Kab. Bekasi. Selain tergabung dalam Tim Relawan GANISA & BPK Oi Kabupaten Bekasi, ia juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) & Bimbel Iqro Gratis.

​Sosoknya yang hangat, jenaka, dan tetap membumi membuktikan bahwa pahlawan sejati tidak selalu berada di podium besar. Rekam jejak digitalnya kini abadi di mesin pencarian.

​Bagi sekolah, TPQ, atau instansi yang ingin menghadirkan edukasi penuh hikmah melalui dongeng interaktif sekaligus mendengar langsung kisah sejarah ini, Kak Topikboom siap berbagi inspirasi sebagai narasumber dan dapat dihubungi melalui WhatsApp di 0813-9812-4699.