HAK JAWAB SPPG LUGOSOBO: 25 SISWA DIOBSERVASI, SAMPEL MAKANAN DIKUMPULKAN

Lensacyber
A-AA+A++

PURWOREJO, LensaCyber.com — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lugosobo, Luthfi, Kamis (1/10/2026) memberikan hak jawab terkait laporan sejumlah siswa yang mengalami muntah dan keluhan kesehatan setelah mengonsumsi susu di lingkungan sekolah. Ia menegaskan, setelah menerima laporan, pihak SPPG langsung berkoordinasi dengan sekolah, puskesmas, serta unsur terkait untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan.

Luthfi mengatakan, laporan dari pihak sekolah diterimanya sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah itu, ia bersama petugas puskesmas mendatangi lokasi untuk melihat kondisi siswa.

Sebanyak 24 siswa kemudian dikumpulkan dan 1 siswa yang sudah pulang dipanggil kembali ke sekolah sehingga total ada 25 siswa. Mereka menjalani observasi sekitar 30 menit.

Petugas kesehatan menanyakan sejumlah keluhan, antara lain sakit perut dan pusing, sekaligus memantau kondisi siswa.

Menurut Luthfi, 10 anak yang masih ada keluhan diberikan obat, tetapi stabil dan sudah diperbolehkan pulang.

“Setelah menerima laporan, saya langsung ke lokasi bersama pihak puskesmas. Anak-anak kemudian dikumpulkan di salah satu ruangan untuk dilakukan pemantauan,” jelas Luthfi.

Luthfi menyebut sebagian siswa yang diperiksa tidak mengeluhkan sakit perut maupun pusing. Ia juga melihat beberapa siswa kembali bermain dan bercanda. Sementara dua siswi sempat menangis, namun menurut keterangannya, keduanya tidak menyampaikan keluhan tersebut saat ditanya.

Baca Juga :  Pemerintah Kabupaten Lampung Timur Salurkan Bantuan Pangan Beras untuk 1.088 KPM di Pasar Sukadana

Meski demikian, Luthfi menegaskan bahwa penilaian kondisi kesehatan siswa merupakan kewenangan petugas puskesmas.

Setelah pemeriksaan, pihak puskesmas berkoordinasi dengan orang tua atau wali murid. Siswa yang dinyatakan stabil kemudian diperbolehkan pulang sesuai hasil penilaian tenaga kesehatan.

Sampel Makanan Dikumpulkan

Sebagai bagian dari tindak lanjut, koordinasi dilakukan dengan sejumlah pihak, termasuk puskesmas, kepolisian, TNI, dan instansi terkait lainnya.

Menurut Luthfi, petugas juga mendatangi lokasi untuk menggali kronologi serta mengumpulkan sampel makanan guna mendukung proses pemeriksaan lebih lanjut.

Namun, hingga hak jawab ini disampaikan, hasil pengujian sampel makanan belum diketahui. Karena itu, penyebab keluhan yang dialami siswa belum dapat dipastikan hanya berdasarkan kronologi awal maupun pengamatan di lokasi.

Luthfi juga menyampaikan bahwa operasional SPPG khusus untuk MI Ash-Sholih untuk sementara dihentikan sembari menunggu perkembangan penanganan dan koordinasi dengan pihak terkait.

Terkait pelaksanaan layanan pemenuhan gizi, ia menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP), termasuk penggunaan alat pelindung diri bagi relawan yang terlibat dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.

Baca Juga :  Beredar Foto Menu MBG di SDN 1 Astapah, Omben : Warganet Pertanyakan Menu dan Gizi nya

Perlengkapan tersebut antara lain penutup kepala, masker, sarung tangan, dan celemek.

Luthfi menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang menimbulkan kekhawatiran di lingkungan sekolah. Ia menegaskan bahwa penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan petugas kesehatan dan instansi terkait.

“Penanganan harus mengacu pada pemeriksaan dan keterangan petugas kesehatan, bukan semata-mata pada dugaan atau asumsi,” tegasnya.

Hak Jawab

Melalui hak jawab tersebut, Luthfi memberikan penjelasan mengenai langkah SPPG Lugosobo setelah menerima laporan dari sekolah, mulai dari kedatangan ke lokasi, observasi siswa, koordinasi dengan tenaga kesehatan dan instansi terkait, hingga pengumpulan sampel makanan.

Hasil pemeriksaan medis dan pengujian sampel makanan menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab keluhan siswa. Karena hasil tersebut belum tersedia dalam keterangan ini, penyebab kejadian belum dapat dinyatakan secara definitif.

Catatan Redaksi:

Naskah ini merupakan hak jawab Kepala SPPG Lugosobo, Luthfi, atas pemberitaan sebelumnya. Keterangan mengenai jumlah siswa, hasil pemeriksaan kesehatan, pengujian sampel makanan, serta penghentian sementara operasional SPPG tetap memerlukan konfirmasi dan/atau dokumen resmi dari instansi berwenang.