Di Tengah Badai Global, Presiden Prabowo Pangkas Harga Pupuk 20% Demi Lindungi Petani

Berry Pratama
A-AA+A++

JAKARTA, LENSACYBER.COM – Di tengah guncangan rantai pasok dunia yang memicu krisis pupuk global, Presiden RI Prabowo Subianto mengambil langkah berani dengan menginstruksikan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%. Kebijakan ini merupakan intervensi strategis pemerintah untuk membentengi kedaulatan pangan nasional dan memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga di masa sulit.

​Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa langkah ini adalah bukti nyata kepemimpinan yang antisipatif. Saat dunia terancam oleh ketidakpastian, Presiden memilih untuk melakukan langkah preventif daripada sekadar bereaksi terhadap krisis.

​”Presiden Prabowo memiliki visi jangka panjang. Beliau memahami bahwa stabilitas nasional dimulai dari piring makan rakyat. Penurunan harga ini bukan sekadar kebijakan ekonomi, tapi adalah ‘perisai’ bagi petani kita di tengah melambungnya harga urea global hingga 40% akibat penutupan Selat Hormuz dan restriksi ekspor dari China,” ujar Mentan Amran (3/5/2026).

​Pemerintah tidak hanya menyentuh aspek harga, tetapi juga melakukan reformasi struktural besar-besaran untuk memastikan keadilan distribusi.

Sebanyak 145 regulasi yang selama ini menghambat penyaluran pupuk resmi dipangkas melalui Instruksi Presiden. Jalur distribusi kini dipersingkat dari Kementerian Pertanian langsung ke PT Pupuk Indonesia, lalu meluncur ke tangan petani.

Baca Juga :  Bupati Sampang Dianggap Suka Berbohong, Warga Banyuates Geram

​Membeli pupuk kini semudah menunjukkan KTP. Integrasi data ini menjamin transparansi dan menutup celah penyelewengan di lapangan.

Target jangkauan hingga ke seluruh kecamatan sentra pangan dipastikan rampung sebelum musim tanam gadu 2026.

​Keunikan kebijakan era Presiden Prabowo terletak pada pendekatan komprehensif yang melindungi petani dari dua sisi. Pertama Hulu (Biaya Produksi), menekan biaya tanam melalui subsidi harga dan efisiensi distribusi. Kedua, Hilir (Jaminan Pendapatan), menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

​Dengan formula ini, petani tidak hanya dibantu untuk menanam, tetapi juga dijamin mendapatkan keuntungan yang layak saat panen tiba. Kebijakan ini diperkirakan mampu menghemat biaya produksi petani hingga ratusan ribu rupiah per hektare bagi lebih dari 16 juta petani di seluruh pelosok negeri.

Baca Juga :  Fahri Hamzah Luncurkan Buku Strategi Swasembada Papan 2045

​Di tengah ancaman anomali iklim El Niño, Indonesia justru mencatatkan rekor baru. Mentan Amran menegaskan bahwa stok pangan nasional berada pada level yang sangat aman. Cadangan beras melampaui 5 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah RI.

Keberhasilan pemerintah dalam mendiversifikasi sumber impor sejak 2025 membuat Indonesia tetap stabil meski jalur perdagangan dunia di Selat Hormuz terganggu.

​”Ini adalah bukti kemenangan visi kedaulatan pangan. Kita tidak hanya bertahan, kita memperkuat posisi tawar Indonesia di mata dunia,” pungkas Mentan Amran.

​Melalui sinergi antara keberanian politik dan eksekusi lapangan yang cepat, pemerintah memastikan bahwa petani Indonesia tetap menjadi pilar utama penyangga bangsa, tak tergoyahkan oleh badai global sekalipun.

 

Sumber: Bakom RI