PURWOREJO | LensaCyber — Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Perwitasari Kabupaten Purworejo terus mendorong perluasan jaringan pelayanan air bersih ke wilayah yang belum terlayani. Namun, rencana tersebut masih terbentur kebutuhan anggaran yang cukup besar.
Saat dikunjungi Media Senin, (14/9/2026) Direktur Utama PDAM Tirta Perwitasari Purworejo, Hermawan, mengatakan pengembangan jaringan dilakukan secara bertahap dengan prioritas pembangunan jaringan distribusi utama.
Salah satu pengembangan diarahkan dari sumber air Jembangan menuju sejumlah wilayah. Pengembangan ini mencakup jalur Gerabag–Butuh hingga wilayah timur, termasuk Ngombol dan Kembang kuning, yang kedepannya akan menjadi Wilayah Industri. Sedang diwilayah Ngombol sendiri belum terjangkau pelayanan.
“Insya Allah bulan depan kita mulai dari Grabag ke Arjowinangun.”
PDAM juga menyiapkan pengembangan pelayanan ke wilayah Loano dan Bener. Seluruh rencana tersebut akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
“Pengembangan yang step by step itu kita pemasangan jaringan distribusi utama dulu,” kata Hermawan.
Tiga Jalur Butuh Hampir Rp30 Miliar
Hermawan mengungkapkan, kebutuhan anggaran terbesar berada pada pembangunan jaringan Pipa distribusi Utama (JDU) HDPE 12 inch yang mencakup tiga jalur, Total kebutuhannya diperkirakan hampir Rp30 miliar.
Tiga jalur tersebut meliputi Bagelen menuju arah bandara, Bagelen ke arah utara, serta jalur crossing dari Bagelen melewati sungai Bogowonto yang menuju Jalan Daendels.
Menurut Hermawan, sejumlah persiapan seperti lahan dan perizinan di beberapa wilayah telah tersedia. Persoalannya kini lebih banyak berada pada kemampuan pembiayaan pembangunan jaringan.
Pengembangan tiga jalur tersebut diproyeksikan masuk dalam rencana jangka menengah 2026–2027.
Bukan Sekadar Infrastruktur
Perluasan jaringan juga menjadi bagian dari upaya PDAM menjawab persoalan kekeringan. Di sejumlah wilayah, termasuk Kaligesing, permintaan layanan melalui drop tank cukup tinggi.
Namun, Hermawan menilai distribusi menggunakan tangki tidak cukup untuk menjadi solusi jangka panjang. Salah satu alternatif yang dikaji adalah pembangunan instalasi pengolahan air di wilayah Kaligesing dan Plipir untuk kemudian dialirkan menuju kawasan sekitarnya.
Hermawan menegaskan, perluasan jaringan memiliki fungsi sosial karena akses air bersih berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
PDAM juga memiliki kewajiban mengalokasikan sebagian pengembangan pelayanan untuk wilayah yang secara bisnis belum terlalu menarik karena panjangnya jaringan dan rendahnya jumlah pelanggan.
“Nomor satu, masyarakat sehat. Namanya air kan untuk minum, untuk mandi, untuk ibadah, itu kan semua perlu air,” katanya.
Selain memenuhi kebutuhan dasar, ketersediaan air bersih dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan pencegahan persoalan seperti stunting.
Di sisi lain, jaringan air juga menjadi salah satu infrastruktur pendukung investasi. Menurut Hermawan, investor membutuhkan kepastian fasilitas dasar sebelum mengembangkan usaha di suatu wilayah.
“Investor itu minimal fasilitas utama (Fasum) sudah ada dulu,” tegasnya.
PDAM berharap pengembangan jaringan secara bertahap dapat memperluas akses air bersih hingga seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Purworejo. Namun, realisasinya tetap bergantung pada dukungan dan ketersediaan anggaran, terutama untuk pembangunan jaringan distribusi yang membutuhkan investasi besar.
{CHY}







