PURWOREJO | LensaCyber.com — Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Perguruan Seni Beladiri Pencak Silat Tri Susila Indonesia (TSS Indonesia) diwarnai kegiatan ziarah makam leluhur dan pembelajaran sejarah di sejumlah situs budaya di Kabupaten Purworejo.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda peringatan hari lahir perguruan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan sejarah, adat, dan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi muda.
Ketua Umum TSS Indonesia, Eko Satyawan, S.P., mengatakan rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menanamkan kesadaran sejarah sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
“Dari awal kita bertujuan untuk nguri-uri budaya, berdoa kepada leluhur supaya kita sebagai generasi milenial dan Gen Z ini tidak lupa akan sejarah, doa, dan adat kepada leluhur,” ujar Eko.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam guru besar TSS Indonesia, almarhum Bopo Tugino, kemudian dilanjutkan ke makam Simbah Kendil Wesi.
Rombongan selanjutnya melakukan pembelajaran sejarah di kawasan Sumur Pitu Kemloko, Cangkrep Kidul, Kabupaten Purworejo. Kegiatan tersebut dipandu juru kunci setempat, Mugi.
Ziarah kemudian dilanjutkan ke makam Wali Tohir dan diakhiri di makam Simbah Pronogati.
Menurut Eko, kegiatan semacam ini rutin dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan HUT TSS Indonesia. Jika biasanya digelar pada Agustus, tahun ini rangkaian kegiatan bergeser ke September karena padatnya agenda perguruan.
Selain mengenalkan sejarah, kegiatan tersebut juga diarahkan sebagai pendidikan karakter bagi para siswa TSS Indonesia.
Eko berpesan agar para siswa senantiasa menghormati sesepuh, orang tua, dan guru, sekaligus meneruskan cita-cita para pendahulu dalam mengembangkan padepokan serta melestarikan seni bela diri pencak silat.
“Pesan khusus untuk siswa agar kita selalu bisa menjadi siswa yang tawaduk terhadap sesepuh, terutama orang tua dan guru,” katanya.
“Bisa melestarikan apa yang leluhur kita dulu membuat padepokan ini supaya bisa lebih mengembangkan cita-cita beliau dan menjadi penguri-uri budaya, terutama untuk pencak silat,” imbuhnya.
Sumur Pitu Kemloko, Jejak Warisan Leluhur
Juru Kunci Sumur Pitu Cangkrep Kidul, Mugi, menyambut positif kunjungan TSS Indonesia. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan merawat peninggalan budaya leluhur di wilayah Cangkrep Kidul.
“Sangat-sangat bagus, karena untuk mengetahui atau nguri-uri budaya Jawa. Ini termasuk peninggalan para leluhur dulu yang ada di Cangkrep Kidul, Kabupaten Purworejo,” kata Mugi.
Mugi menjelaskan, Sumur Pitu berasal dari keberadaan tujuh sumur yang pada masa lalu menjadi sumber air penting bagi masyarakat sekitar. Air dari kawasan tersebut dapat dialirkan untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Sumur Pitu itu dari kata tujuh sumur. Sumur itu untuk menolong warga masyarakat dan sekitarnya mengenai air, sumber airnya bisa dialirkan ke mana-mana,” jelasnya.
Selain memiliki fungsi sebagai sumber air, kawasan tersebut juga menyimpan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Sumur Pitu pada masa lampau menjadi salah satu tempat persinggahan para sesepuh atau leluhur pada masa kerajaan.
“Zaman dulu Sumur Pitu ini termasuk persinggahan para sesepuh, leluhur pada masa kerajaan dahulu,” ungkap Mugi.
Dirawat Setiap Bulan Suro
Pelestarian Sumur Pitu hingga kini masih dilakukan masyarakat, salah satunya melalui pemagaran bambu di sekitar masing-masing sumur yang dilakukan setiap tahun pada bulan Suro.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kawasan tetap tertata sekaligus mempertahankan karakter alami dan keberadaan situs tersebut.
“Biasanya tiap satu tahun sekali bulan Suro ini diadakan pemagaran bambu di setiap sumur. Itu cara melestarikannya biar kelihatan indah, tetap asli,” ujarnya.
Mugi berharap masyarakat ikut menjaga keberadaan Sumur Pitu Kemloko agar tetap lestari dan semakin dikenal sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
“Harapan saya, Sumur Pitu ini harus tetap dijaga, lestari dan bisa dikenal di mana-mana,” pungkasnya.
Peringatan HUT ke-67 TSS Indonesia tersebut menunjukkan bahwa pelestarian pencak silat dapat berjalan beriringan dengan pengenalan sejarah dan budaya lokal. Melalui ziarah dan napak tilas sejarah, generasi muda diajak tidak hanya mengenang warisan leluhur, tetapi juga memahami nilai serta meneruskannya kepada generasi berikutnya.
CHY







