MBG Berujung Muntah, Mual hingga Diare: 25 Siswa Penungkulan Terserang, SPPG Lugosobo Disorot

Lensacyber
A-AA+A++

PURWOREJO, LensaCyber.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Purworejo kembali menjadi sorotan. Sedikitnya 25 siswa MI/RA As-Sholih, Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan dari SPPG Lugosobo 1, Kamis (24/9/2026).

Keluhan yang dilaporkan meliputi mual, muntah, pusing hingga diare. Peristiwa tersebut kini masuk dalam pendalaman aparat kepolisian untuk memastikan apakah terdapat kaitan antara makanan yang dikonsumsi para siswa dengan gangguan kesehatan yang terjadi.

Kapolsek Gebang AKP Sumarno, SH. membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurutnya, kepolisian telah melakukan langkah awal dengan memanggil pihak yang berkaitan dengan pengelolaan SPPG.

“Benar ada kejadian pada hari tersebut. Kami sudah melakukan pemanggilan terhadap Kepala SPPG dan ahli gizi berdasarkan laporan dari Puskesmas,” ujar Sumarno.

Pendalaman kasus masih berjalan. Polisi belum menyimpulkan penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan pada para siswa.

Dengan demikian, kejadian tersebut untuk sementara masih berada pada ranah dugaan, sembari menunggu hasil pemeriksaan dan pendalaman dari pihak berwenang.

Menu MBG Disorot

Pada hari kejadian, makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat antara lain nasi, telur katsu, tempe tepung, jagung, serta susu kotak kemasan.

Dari sisi pengelolaan, SPPG Lugosobo 1 disebut berada di bawah naungan Yayasan Edukasi Anak Bangsa II Semarang.

Akuntan SPPG, Sri Kurnianingsih, menyebut jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 1.786 orang.

Ia juga menjelaskan bahwa untuk kelompok penerima manfaat kategori B3—bayi, balita dan ibu menyusui—menu yang diberikan sama, sedangkan perbedaannya terdapat pada volume porsi.

Baca Juga :  Prioritaskan Warga Lokal, PT Sarana Global Quarry Gelar Program Diskon 10% Material Bangunan hingga September 2026

Namun, ketika upaya konfirmasi dilakukan terkait dugaan gangguan kesehatan yang menimpa siswa MI/RA As-Sholih, Kepala SPPG Lugosobo 1, Lutfi, maupun ahli gizi disebut belum dapat ditemui karena tidak berada di lokasi.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pertanyaan terkait proses pengolahan, distribusi, pengawasan hingga keamanan pangan masih menunggu penjelasan langsung dari pihak pengelola.

Sampel Makanan Diperiksa

Lurah Lugosobo Ferry Setiawan menyampaikan bahwa pada Kamis, sampel makanan terkait kejadian tersebut dilakukan pengujian laboratorium.

Pemeriksaan sampel menjadi bagian penting untuk memastikan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain yang dapat menjelaskan munculnya keluhan kesehatan pada para siswa.

Sebelumnya, pemberitaan mengenai kejadian tersebut juga menyebut sampel makanan diamankan untuk pemeriksaan pihak kesehatan, sementara pemerintah kecamatan melakukan pemantauan terhadap sekolah lain yang menerima MBG dari SPPG yang sama.

Camat Turun Langsung

Saat kejadian berlangsung, Camat Gebang melakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke lokasi.

Pemerintah Kecamatan Gebang kemudian melakukan koordinasi lintas sektor untuk memperketat pengawasan dan monitoring pelaksanaan program MBG, khususnya terhadap SPPG yang melayani penerima manfaat di wilayah tersebut.

Langkah itu dinilai penting mengingat distribusi MBG tidak hanya menyasar satu sekolah. Jika terdapat persoalan pada rantai penyediaan makanan, dampaknya berpotensi menyentuh penerima manfaat dalam jumlah jauh lebih besar.

Baca Juga :  Merawat Tradisi, Menjaga Negeri, Menguasai Masa Depan — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Lampung Timur

Belum Ada Kepastian Penyebab

Hingga proses pendalaman berlangsung, belum ada kesimpulan resmi bahwa keluhan kesehatan 25 siswa tersebut disebabkan oleh makanan MBG.

Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan aparat menjadi kunci untuk mengurai persoalan: apakah keluhan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau faktor lain di luar MBG.

Polsek Gebang kini melakukan pendalaman berdasarkan laporan dari Puskesmas, termasuk meminta keterangan pihak-pihak yang berkaitan dengan pengelolaan SPPG.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dalam proses konfirmasi, belum terdapat tindakan suspend terhadap SPPG Lugosobo 1.

Catatan ini berbeda dengan pemberitaan publik lain pada 24 September yang menyebut adanya pernyataan Wakil Bupati Purworejo mengenai penghentian sementara layanan SPPG sebagai langkah kehati-hatian. Karena terdapat perbedaan informasi tersebut, status operasional SPPG perlu dikonfirmasi kembali kepada pihak berwenang dan pengelola.

Yang kini menjadi perhatian bukan semata-mata siapa yang harus disalahkan, melainkan seberapa ketat sistem pengawasan keamanan pangan MBG berjalan sebelum makanan sampai ke tangan anak-anak.

Hasil laboratorium dan pendalaman kepolisian nantinya diharapkan mampu memberikan jawaban objektif sekaligus memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

LensaCyber.com masih berupaya memperoleh konfirmasi langsung dari Kepala SPPG Lugosobo 1, ahli gizi, Yayasan Edukasi Anak Bangsa II Semarang, serta instansi terkait mengenai kronologi pengolahan, standar keamanan pangan dan status terbaru operasional SPPG.

CHY